Senin, 26 September 2011

Lahirnya Para Idola Dadakan

Fauzan Syai'e
Anggota Komisi II DPR RI
Masih ingatkah Anda dengan Fery “AFI”, Mike “Idol”, atau Siti “KDI”? Ya, mereka penyanyi dadakan yang lewat kompetisi di beberapa stasiun televisi. Mereka sempat menjadi idola, khususnya kawula muda. Di versi junior, ada Samuel “AFI” atau Joe “Idol” yang juga lahir sebagai idola anak-anak dari kontes di televisi. Sebelum mendadak menjadi idola, mereka menjalani proses seleksi yang cukup panjang bersama para kontestan lainnya. Salah satunya proses karantina.

 
Selama masa karantina, mereka tinggal di base camp khusus untuk penggemblengan performance. Mereka berusaha merebut simpati dengan memainkan emosi pemirsa melalui tayangan keseharian saat dikarantina. Dari sisi marketing, mereka berupaya mencari pendukung sebanyak-banyaknya dengan mempromosikan diri, mempertunjukkan bakat dan penampilan, atau dengan menggugah hati pemirsa melalui cerita latar belakang kehidupan mereka.
Yang memenangkan kontes akhirnya tampil sebagai idola baru. Dalam sekejap mereka menjadi bintang. Semua fasilitas layaknya artis mereka raih, hingga peluang masuk dapur rekaman. Namun, setelah beberapa edisi, perlahan tapi pasti ajang-ajang tersebut meredup. Masyarakat mulai bosan, tolak ukurnya mudah saja, yakni menurunnya rating untuk tayangan tersebut. Bahkan berhenti total karena secara dianggap tak menguntungkan.
Masyarakat pun mulai menginginkan acara lain yang lebih fresh. Selang beberapa waktu muncul idola-idola baru yang menyajikan penampilan lebih atraktif. Seperti si lincah Brandon, drumer cilik J.P. Millenix, dan sang juara kontes sekelompok pengamen jalanan bernama Klantink melalui ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB).
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana nasib para artis dadakan jebolan kontes idola ini? Dalam permulaan karier yang belum seumur jagung, akhirnya hanya beberapa dari mereka yang eksis dengan ukuran kerap muncul di media massa. Melalui hit lagu ataupun dengan membintangi iklan salah satu produk. Yang lain ada yang mengalami nasib buruk, tak lagi tampil di media massa Tanah Air hingga terlilit utang karena sebelumnya ngotot merogoh kocek dalam jumlah besar untuk mengejar poling SMS.
Fenomena artis dadakan lain muncul melalui situs jejaring sosial ataupun YouTube. Lebih dahsyat lagi, para idola ini tenar bahkan tanpa proses penggemblengan apa pun, tetapi boleh dibilang lebih mengandalkan keberuntungan dan kejelian memanfaatkan media internet. Sebut saja Shinta-Jojo, dua mahasiswi muda yang mendadak top lewat lipsync lagu Keong Racun via YouTube. Kemudian yang teranyar aksi Briptu Norman, seorang polisi yang berasal dari Polda Gorontalo mendadak ngetop juga melalui YouTube dengan lipsync lagu India Chaiyya-Chaiyya. Melalui aksi unik mereka tersebut, dalam waktu singkat mereka telah dikenal masyarakat Indonesia.
Para idola ini begitu dielu-elukan dan dipuja sebagian masyarakat, hingga pada akhirnya kebanjiran rezeki karena banyaknya stasiun televisi maupun event organizer yang mengundang penampilan mereka di atas panggung. Namun, pada akhirnya seleksi alam menentukan, siapa di antara idola dadakan ini yang benar-benar memiliki kapasitas sebagai seorang idola sejati.
Hanya beberapa dari mereka yang bertahan dan layak jual, yakni idola yang memiliki bakat dan talenta mumpuni, kreatif serta dapat bertahan di tengah kerasnya persaingan dunia hiburan. Sedangkan lainnya, para idola yang cenderung mengandalkan kekuatan uang untuk mengejar poling SMS ataupun menang akibat "belas kasihan" pemirsa televisi dengan menampilkan latar belakang kehidupan yang mengenaskan, lambat laun menghilang dari peredaran.
Munculnya artis dadakan seperti tergambar di atas mengingatkan kita pada konteks politik lokal, tepatnya suksesi pemilihan kepala daerah (pilkada). Atas dasar itulah, penulis memaparkan kemunculan idola dadakan di panggung hiburan nusantara untuk mengaitkannya dengan kontes pilkada yang juga besar kemungkinan akan melahirkan para idola baru di hati masyarakat di masing-masing daerah.
Kontes pilkada diharapkan mampu menelurkan sosok pemimpin dambaan masyarakat yang mampu memajukan pembangunan daerah, mengurangi masalah sosial, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk. Akan tetapi, dalam banyak pergelaran pilkada di Tanah Air, hasil serupa dengan kontes para idola dadakan tampaknya juga menghantui kita.
Eksistensi para idola yang terpilih dengan modal besar maupun dengan memanfaatkan popularitas mereka, dalam hal ini bupati/wali kota beserta wakil, perlahan memudar tak seperti ketika proses pemilihan hingga awal-awal kepemimpinan. Apa yang menjadi harapan pemilih polling—dalam hal ini masyarakat atau konstituen—tak kunjung terealisasi.
Alih-alih mengharapkan terealisasinya keinginan masyarakat, para idola baru tersebut malah melupakan janji-janjinya saat kampanye di luar keinginan masyarakat itu. Memudar, bahkan habisnya popularitas para idola baru pemimpin kabupaten/kota di Tanah Air terbukti dari beberapa survei tentang tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja kepala daerah. Hasil survei menunjukkan, idola-idola terpilih ini tak juga dapat memproduksi hit-hit terbaru yang mengena di hati masyarakat dalam hal ini produk-produk kebijakan maupun program yang menyejahterakan rakyat.
Alih-alih menyejahterakan rakyatnya, banyak dari mereka tersangkut kasus korupsi akibat berusaha menyejahterakan diri sendiri. Hal tersebut berdampak pada meredupnya rating popularitas penyelenggaraan pilkada berikutnya, yaitu menurunnya tingkat partisipasi pemilih. Di samping memang ada sejumlah faktor lainnya, seperti data kependudukan yang belum valid serta masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap esensi pilkada sehingga menyebabkan merebak luasnya praktek politik uang.
Khusus untuk Indonesia, problem pilkada kian berat karena tak kunjung membaiknya kualitas partai politik serta aktor-aktor politik itu sendiri. Kasus Pilkada Maluku Utara dan Sulawesi Selatan menunjukkan betapa sulitnya menghasilkan pilkada berkualitas dan memperoleh kepercayaan semua pihak. Faktor dominan tak lain adalah menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraaan pilkada, khususnya para kontestan yang mengikuti ajang ini. Akibatnya sikap apatislah yang timbul.
Untuk tahun ini, Provinsi Lampung akan menggelar pilkada di kabupaten pemekaran baru, yakni Pringsewu, Mesuji, dan Tulangbawang Barat (Tuba Barat) sesuai amanat UU Nomor 48, 49, dan 50 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Pringsewu, Mesuji, dan Tuba Barat. Tiga daerah otonomi baru (DOB) ini akan memilih calon idola baru masyarakatnya. Persiapan pergelaran pilkada di tiga DOB ini sudah berlangsung.
Bursa bakal calon yang cukup ramai kini telah mengerucut menjadi sejumlah calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup) dari jalur partai politik maupun independen. Mereka pun sudah mendapat nomor urut. Di Pringsewu, pasangan cabup-cawabup yang mendapat nomor urut satu Untung Subroto-Purwantoro. Untung yang merupakan mantan penjabat bupati Pesawaran dan kepala Dinas Pendapatan Lampung bersama Purwantoro yang sempat hendak mencalonkan diri lewat jalur independen, maju melalui perahu Gerindra, PKB, PKPB, PDK, dan PDP yang tergabung dalam Koalisi Secancanan.
Selanjutnya, pasangan nomor urut dua Ririn Kuswantari-Subhan Effendi. Ririn bersama Subhan yang tak lain Ketua DPD II Partai Golkar Pringsewu tersebut, maju melalui Golkar dan PPP. Nomor urut tiga milik Abdullah Fadri Auly-Tri Prawoto. Aab, sapaan akrab Abdullah Fadri Auly, yang merupakan politisi PAN bersama Tri maju melalui PAN dan Hanura. Kemudian, pasangan dengan nomor urut empat adalah Sinung Gatot Wiryono-Mat Alfi Asha yang maju dari jalur independen. Serta Sujadi Saddat-Handitya Narapati S.Z.P. di nomor urut lima. Sujadi yang merupakan Wakil Bupati Tanggamus bersama Handitya yang tak lain putra Sjachroedin, Gubernur Lampung, maju melalui perahu PDIP, Demokrat, PKS, PKNU, dan PKPI. n
tiser:.....
Munculnya artis dadakan seperti tergambar di atas mengingatkan kita pada konteks politik lokal, tepatnya suksesi pemilihan kepala daerah (pilkada).

sumber : http://www.lampungpost.com/opini/10076-lahirnya-para-idola-dadakan-1.html
 

Copyright © 2009 by SMP Negeri 2 Way Seputih

Template by Blogger Templates | Powered by Blogger